Pop under

CERITA Horor: GUNUNG LEREH

Novel dan cerita horor tentang pegunungan, ritual dan tumbal: cerita gunung lereh- gunung mayit


GUNUNG LEREH - GUNUNG MAYIT


Deskripsi:

Keluarga Harun bangkrut. Kapal ikan Bapak Harun tenggelam di perairan Toronua. Utang 800 juta. Rumah yang mereka tempati sejak Naya kecil akan disita bank minggu depan. Tidak ada lagi yang bisa dijual, kecuali harga diri. 

Di titik terendah itu, Puang Jagu datang. Seorang dukun pembuka jalan dari kaki Gunung Lereh, gunung yang tidak pernah ada di peta wisata, gunung yang bahkan para pendaki profesional tidak berani mendaki tanpa izin tetua adat. Puang Jagu tidak meminta kambing hitam atau ayam cemani. 

Dia hanya meminta satu syarat yang terdengar sederhana. "Bawa keluargamu lengkap. Bapak, Ibu, anak laki-lakimu, anak perempuanmu. Harus sedarah, harus utuh. Tanam niat kalian di tanah lapang di puncak. Gunung akan kasih jalan rezeki." 

Pantangan Gunung Lereh hanya satu, dan semua warga di Toronua tahu: *Jangan pernah bawa keluarga sedarah lengkap ke puncak.* 

Tapi Bapak Harun melanggarnya. Dengan dalih kasih sayang, dengan kalimat paling berbahaya di dunia: "Bapak lakukan ini untuk keluarga." 

Mereka berempat naik. Naya (19), si bungsu yang paling polos. Rian (23), kakak yang merasa tidak pernah dibanggakan. Ibu (42), yang menyimpan rahasia kehilangan adiknya di gunung yang sama 15 tahun lalu. Dan Bapak (48), kepala keluarga yang gagal dan ingin terlihat pahlawan untuk terakhir kalinya. 

Di puncak, mereka tidak menemukan kawah atau pemandangan. Mereka menemukan tanah lapang yang terlalu datar untuk ukuran gunung. Tanah yang tidak ditumbuhi rumput, hanya ratusan patok kayu yang sudah lapuk. 

Di setiap patok, ada nama yang diukir paksa dengan pisau. IBU. AYAH. KAKAK. ADIK. HARUN. MARNI. RIAN. Nama-nama keluarga yang pernah naik lengkap dan tidak pernah turun lengkap. Gunung Lereh tidak pernah meminta tumbal. 

Gunung itu hanya menunjukkan penyesalan terdalam yang disembunyikan setiap anggota keluarga. Bisikan yang memanfaatkan retakan yang sudah ada jauh sebelum mereka naik gunung.



BAB I 
GUNUNG LEREH - UTANG BAPAK



Rumah kami akan disita hari Selasa.

Rumah kami akan disita hari Selasa.

Suratnya sudah ditempel di pintu sejak Kamis lalu, pakai kertas kuning yang kalau kena hujan tidak luntur. Bapak tidak mencabutnya. Bapak hanya menatapnya setiap pagi sebelum berangkat ke pelabuhan, seperti menatap vonis mati yang dia tahu akan datang.

Bukan karena Bapak malas. Demi Tuhan, Bapak adalah orang paling rajin yang pernah aku kenal. Kulitnya hitam legam karena matahari Pelabuhan Toronua. Tangannya kapalan karena menarik jaring ikan berton-ton sejak aku belum bisa mengeja namaku sendiri. Tapi kapal kayu satu-satunya yang kami punya, KM Sinar Harapan, tenggelam bulan lalu. Bukan ditabrak ombak. Ditabrak kapal tongkang tambang nikel yang tidak menyalakan lampu.

Sopir tongkangnya kabur. Perusahaan tambangnya bilang itu bukan jalur mereka. Asuransi kapal kecil Bapak tidak cair karena polisnya telat bayar dua bulan. Utang di bank untuk beli mesin baru masih jalan. 800 juta. Angka yang bahkan tidak bisa aku bayangkan bentuk uangnya seperti apa.

Ibu sudah tidak menangis lagi. Ibu sudah selesai menangis tiga hari yang lalu di kamar mandi sambil mengguyur kepalanya. Sekarang Ibu hanya duduk di dapur, menatap kompor gas yang tabungnya sudah kosong tiga hari, mengupas bawang merah yang tidak akan dimasak karena beras kami sisa setengah liter. Ibu mengupasnya pelan, satu per satu, seperti menghitung sisa hari kami di rumah ini.

Rian, kakakku, umur 23 tahun, sibuk menjual semua yang bisa dijual. Motor maticnya sudah laku kemarin 7 juta, padahal belinya 18 juta. Sepatu futsalnya, laptop bekasnya yang layarnya retak di pojok kanan, bahkan jam tangan hadiah dari pacarnya. Rian tidak banyak bicara padaku lagi. Sejak Bapak bangkrut, Rian merasa dialah yang harus jadi kepala keluarga. Dia benci melihat Bapak duduk diam menatap surat sita itu.

Dan aku, Naya. 19 tahun. Baru lulus SMA 4 bulan lalu. Seharusnya bulan depan aku daftar tes keperawatan di Kendari. Formulirnya masih terlipat rapi di bawah bantal, sudah aku isi pakai pulpen yang aku pinjam dari Ibu. Tapi aku tidak berani kasih lihat ke Bapak. Untuk apa kuliah kalau untuk makan besok saja kami tidak tahu?

Malam ini, di meja makan yang kaki mejanya sudah diganjal batu bata biar tidak goyang, Bapak mengumpulkan kami. Lampu neon berkedip-kedip, mau mati.

Bapak tidak makan. Di piringnya hanya ada nasi putih tanpa lauk. Dia menaruh sebuah kantong plastik hitam di tengah meja. Suaranya berat.

"Kita naik gunung," kata Bapak.

Rian yang sedang menyeruput air putih langsung tertawa pendek, sinis. "Gunung? Pak, kita ini mau disita, bukan mau liburan. Bapak waras?"

"Bukan liburan," Bapak membuka kantong plastik itu. Di dalamnya bukan makanan. Di dalamnya ada segenggam tanah merah yang dibungkus daun pisang, seikat dupa, dan sebuah foto keluarga kami yang sudah kusut. Foto itu diambil 5 tahun lalu di Pantai Toronua. 

Waktu itu kami masih lengkap. Bapak masih tertawa lebar memeluk Ibu, Rian masih pakai seragam SMP, aku masih pakai kuncir dua. "Puang Jagu bilang ada jalan. Di Gunung Lereh."

Nafasku tercekat mendengar nama itu.

Semua orang di Toronua, bahkan anak SD tahu Gunung Lereh. Gunung di belakang kampung kami yang tidak pernah ada di peta pendakian. Tidak ada yang jual paket open trip ke sana. Orang-orang tua di masjid bilang, gunung itu tidak suka keluarga lengkap. Itu pantangan turun-temurun.

Jangan pernah bawa Bapak, Ibu, anak laki-laki, anak perempuan, semuanya sedarah, ke puncak. Kalau dilanggar, pasti ada satu yang ketinggalan. Bukan hilang diculik, tapi ditahan. Gunungnya yang menahan.

Ibu langsung pucat, bawang di tangannya jatuh. "Harun, jangan. Demi Allah jangan. Adikku, Rafi... kamu ingat Rafi? Dulu dia naik sama istrinya dan dua anaknya. Dia naik lengkap. Dia tidak turun, Harun. Anaknya yang kecil yang turun sendirian dan jadi gila sampai sekarang!"

"Adikmu itu bodoh! Dia tidak pakai pembuka jalan! Dia naik sombong!" Bapak membanting gelas plastik di meja. Gelas itu tidak pecah, hanya retak memanjang. Seperti keluarga kami. "Puang Jagu bilang harus lengkap! Harus utuh sedarah! Baru gunung kasih jalan rezeki! Kita tanam niat kita di tanah lapang di puncak, kita minta jalan, utang lunas! Kita bisa mulai lagi!"

"Bapak gila! Bapak mau jual kami ke setan?!" Rian berdiri, kursinya jatuh.

Bapak menatap kami satu per satu. Matanya merah, bukan karena marah. Tapi karena malu. Air matanya jatuh tanpa suara ke nasi putihnya. Aku baru pertama kali seumur hidup melihat Bapak menangis.

"Bapak sudah gagal jadi Bapak kalian," suaranya pecah, parau. "Bapak tidak bisa kasih kalian rumah. Bapak tidak bisa sekolahkan Naya. Biarkan Bapak coba terakhir kali ini. Anggap saja... anggap saja ini liburan terakhir kita sebagai keluarga sebelum rumah ini diambil bank. Ya? Kita naik, kita berdoa sama-sama di atas. Kalau tidak berhasil, ya sudah. Setidaknya kita pernah di atas sama-sama."

Kalimat itu. Kalimat liburan terakhir sebagai keluarga itu yang membuat Ibu menutup mulutnya dan mengangguk sambil menangis. Membuat Rian yang keras kepala akhirnya duduk kembali dan diam. Membuat aku, yang paling ingin kuliah, tidak bisa menolak. Karena jauh di dalam hatiku, aku juga ingin satu hari saja kami tidak memikirkan utang.

Besok paginya, jam 5 subuh, kami berempat naik. Kabut masih tebal di Toronua. Aku pakai jaket kuning bekas Rian yang kebesaran dan bau matahari. Rian bawa parang tumpul milik Bapak. Ibu bawa bekal nasi kepal yang dibungkus daun, yang kami tahu tidak akan ada yang nafsu makan. Bapak bawa foto keluarga kusut itu di saku kemejanya, dekat dengan jantung.

Warga di kaki gunung menatap kami aneh waktu kami lewat. Tidak ada yang menyapa seperti biasa. Seorang nenek penjual pisang goreng yang biasanya memanggilku "Naya cantik" ...menahan tanganku di pinggir jalan setapak. Tangannya dingin.

"Nak," bisiknya, matanya menatapku tajam, "Kamu yakin mau bawa keluargamu lengkap?"

Aku mengangguk, memaksa senyum. "Iya, Nek. Kami mau minta rezeki di atas. Doakan ya."

Nenek itu tidak menjawab. Dia malah menatap ke belakangku, ke arah Bapak, Ibu, dan Rian yang berjalan beriringan. Lalu dia menatapku lagi dengan tatapan kasihan yang sangat dalam, tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Tapi Nak..." katanya pelan, hampir tidak terdengar, "...dari tadi Nek lihat kamu jalan sendirian. Tidak ada siapa-siapa di belakangmu."

Darahku berhenti mengalir.

Jantungku berdentum keras sampai ke telinga. Aku menoleh ke belakang, cepat. Bapak, Ibu, dan Rian ada di sana. Jelas ada di sana. Bapak melambaikan tangan menyuruhku cepat, Ibu mengernyitkan dahi melihatku berhenti.

"Nek salah lihat," kataku, suaraku gemetar, aku menarik tanganku kasar dan berjalan cepat mengejar keluargaku. Aku tidak berani menoleh lagi ke nenek itu.

Tapi sejak kata-kata nenek itu, aku tidak berani lagi melepaskan tangan Ibu. Aku menggenggamnya erat. Tangan Ibu dingin dan berkeringat.

Jalan setapak menuju Gunung Lereh semakin sempit. Semakin atas, hutan semakin diam. Terlalu diam. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara monyet. Hanya suara napas kami berempat yang terdengar terlalu keras, terlalu takut.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di batang pohon beringin besar yang akarnya menjuntai seperti rambut nenek sihir, ada ukiran baru. Ukirannya masih basah, getahnya masih menetes, seperti baru diukir semalam.

Tulisannya adalah namaku.

*NAYA.*

Di bawahnya, ada tulisan lain yang lebih kecil, seperti ditulis dengan kuku yang gemetar, dengan darah.

*JANGAN BAWA MEREKA LENGKAP.*

Aku ingin berteriak memanggil Bapak. Tapi sebelum suaraku keluar, Rian yang berjalan di depanku berhenti. Dia juga melihat ukiran lain di pohon sebelahnya, pohon yang sama besarnya.

Ukiran namanya sendiri.

*RIAN.*

Dan Rian berbisik, dengan suara yang tidak pernah aku dengar dari kakakku sebelumnya, suara anak kecil yang ketakutan dan ingin pulang,

"Nay... ini... ini tulisan tanganku. Kapan aku tulis ini?"




Posting Komentar

0 Komentar